Siap grak! Tentara perbatasan

Jammu kashmir,  20th January 2018

“Manusia memang makhluk yang suka bercerita dan membangun hidupnya berdasarkan cerita yang di percayai nya” – great stories of the quran-

DSC01875

Tentara di mana mana,  banihal railways station,  solo backpacker 2018

perjalanan darat ku berkelana ke Utara  berpuluh puluh jam aku habiskan di terminal dan laju kendaraan, jalan satu jalur di kelilingi lembah lembah gundul di kiri nya jurang, sungai berarus deras di bawah jalan yang terlihat biru karena terkandung kekayaan mineral di dalamnya  siap menyambut penumpang bus reyot yang aku naik apabila bus tua ini hilang keseimbangan sedikit saja, Utara memang menawan,  utara selalu berujung menjadi ajang perebutan batas batas  negara, menegaskan bahwa negara yang menguasainya kuat,  utara memang terlalu dingin untuk ukuran manusia dari negara tropis sepertiku, di lihat dari peta utara terletak di daerah paling tinggi dan memiliki kekayaan dan sumber daya alam yang melimpah, gunung gunung tinggi ada di sana, alam yang hijau potensi besar untuk daerah mengembangkan pariwista lokal dan mancanegara, banyak yang selalu bermimpi menguasai sang Utara yang menawan,  di jaga ketat banyak tentara, di sudut sudut pasar, lorong lorong gang sempit yang di curigai pun tentara ada di sana,  di sekolah sekolah,  di jalan banyak bertebaran pos pemeriksaan semua kendaraan yang melintas harus turun dan melaporkan semua surat izin kendaraan, memperketat penjagaan agar pihak pihak asing berbahaya yang mengancam kedaulatan negara tidak masuk ke dalam tanah kaya sumber daya, tentara adalah sebuah simbol kekuatan negara, basis paling depan pertahanan.

DSC01719

Tentara di mana mana,  vessu, solo backpacker 2018

DSC01863

Tentara di mana mana,  solo backpacker 2018

Daerah perbatasan memang sangat sensitif, senapan senapan tentara selalu  terpanggul di atas bahu para tentara perbatasan ini,   di daerah vessu menuju srinagar mobil yang aku tumpangi selalu di Berhenti kan tentara,  sopir bus ku sempat di pukul dengan senapan karena lama mengeluarkan surat izin jalan, dan di desa tantrapora bahkan aku sempat di curigai sebagai mata mata karena berjalan jalan di area kampung,  karena ketidaktahuan ku akan area berbahaya.  Selusin tentara dengan  perlengkapan penuh dan komandan mereka mengintrogasi ku saat di undang bertemu ke rumah salah satu warga.  Aku di curigai sebagai jurnalis yang berbahaya mereka menahan paspor ku, mengajak ngacak seluruh tas ku,  dan mengecek satu persatu gambar dalam kamera saku ku.  Tentara itu mendapatkan laporan dari seorang warga karena Aku orang asing masuk ke area mereka.  Jantung ku berdebar hebat di tengah tempat yang jauh aku harus bisa menenangkan diri ku terjebak dalam situasi pelik seperti ini sendirian,  mencoba menjelaskan sebiasa ku dari introgasi lusinan tentara ini. Aku bilang aku hanya seorang musafir yang sekedar singgah dan tidak sengaja menemukan perkampungan di belakang pasar banihal.  Dan karena aku penasaran di balik bukit itu ada gunung bernama dolhigam.

Tentara oh tentara.

Advertisements

Krisis uang perbekalan di pedalaman muang khua

North Laos,  10th November 2017

“Menulis adalah sebuah keberanian. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” – pramoedya ananta toer-

20171110_144219-01

Hitchhike dari muang khua ke udomxai. Terima kasih mr pong, solo backpacker 2017

Sticky rice sticky rice,  hanya itu yang ada di kepala ku mendengar Laos negara yang terkenal korup di kantor imigrasi perbatasan nya. Tanpa internet,  tanpa peta,  tanpa buku lonely planet panduan wajib traveller di seluruh dunia jujur saja aku memang tidak punya buku lonely planet itu dan tanpa perbekalan uang yang banyak, aku hanya bisa mengandalkan bertanya dengan sesama backpacker dan mencoba menumpang mobil dari satu mobil ke mobil yang lainnya.   Aku tidak pernah tahu akan daerah muang khua mendengarnya saja baru saat aku di bus lokal bersama para backpacker eropa yang menuju Laos dari sapa di Vietnam Utara, jalan panjang berkelok kelak menjadi santapan perjalanan ku memasuki Laos Utara dari vietnam yang memakan waktu hampir 20 jam.  Sampai kantor imigrasi Laos utara di provinsi dien bhien phu pun aku bahkan kena jatah palak 3 dolar di tiap pos petugas dan polisi imigrasi yang aku lewati hanya untuk sekedar mengcap visa di paspor berlogo indonesia ku yang seharusnya gratis untuk ku masuk di negara kawasan asean.

20171108_113651-01

Langit biru di utara perjalanan

Jalan jalan berbukit, langit biru cerah dan rumah panggung penduduk lokal sebagai kawan perjalanan sekaligus obat penawaran badan ku yang sangat lelah dan mata ku yang terkantuk kantuk  melewati perjalanan darat puluhan jam. Jam 9 pagi aku baru sampai muang khua,  daerah perbatasan yang baru pertama kali aku tau dan tidak terencanakan di buku catatan perjalanan ku.  Muang khua asing, seasing diri ku yang tidak terduga sampai di sini,  perjalanan memang memberi ku ruang dan hal luar biasa.  Warga lokal di sini hampir tidak ada yang bisa bahasa inggris termasuk polisi dan muda mudi terpelajarnya kecuali beberapa resepsionis hostel nya yang juga tidak banyak. Ini pedalaman paling utara Laos tidak ada bus yang banyak lewat di sini,  bahkan terminal nya pun kosong hanya ada tanah merah berbentuk lapangan, bus hanya ada sehari sekali dari vietnam itu pun hanya ada jam 6 pagi menuju luang pasang yang harus di tempuh 24 jam nonstop dari sini.  Daerah paling dekat yang aku tanya dari muang khua menuju muang knoi 7 jam naik perahu yang harus di share cost bersama sama dengan tarif 100dolar.  Terlalu berat harga perahu itu untuk ku belum lagi pagi ini apabila aku melanjutkan perjalanan ke muang knoi aku harus menginap di hostel sederhana di sekitaran muang khua seharga 14dolar permalam, karena perahu untuk menyebrang ke muang knoi pun sama hanya ada sehari sekali jam 7 pagi, selebihnya untuk backpacker berkantong tipis seperti ku yang uang nya hanya tersisi 200dolar di saku harus memutar otak, menunggu bus yang informasi dari resepsionis hostel  ada bus Jam 12 siang menuju udomxai, jam 12 sudah lewat 1 jam,  sampai aku menunggu 5 jam bus menuju udomxai belum juga muncul, perjalanan darat memang selalu saja memberi ku intisari nya tersendiri,  jangan menyerah ucap pikiran ku kesemua hal hal yang bekerja secara bertujuan di dalam diri ku, lapang kan dada ku,  berdoa dan berusaha hitchhike akhirnya aku mengambil keputusan untuk mencoba menumpang sambil berjalan memikirkan plan B ku,  kalau kalau tidak ada mobil yang berhenti untuk menampungku aku akan sebisa ku berbicara dengan bahasa tubuh untuk izin tinggal di rumah penduduk! Keuangan ku krisis,  perjalanan masih panjang sekali kalau aku tidak menghemat biaya akomodasi dan transportasi uang perbekalan ku hanya cukup untuk makan! Perjalanan memihak orang orang yang mau berusaha.  Ini manis,  manis sekali sambil tangan ku melambai2 membelakangi jalan,  tuhan membuka kan ku jalan lainnya,  mobil putih hilux 4WD berhenti tepat di samping ku membuka jendela mobil nya,  sang pemilik mobil bertanya dengan bahasa inggris sebisa nya kepada ku,  mau ke mana tujuan ku? Ini lah mr pong,  beliau seorang pembisnis dari Laos,  yang mau berbaik hati menolong ku menumpang mobil nya, mr pong menuju udomxai! Kesialan dan keberuntungan ku hari ini lengkap sudah.  Tidak banyak yang bisa aku tanya ke mr pon karena beliau masih keterbatasan dalam bahasa Inggris.  Tapi ribuan ucapan terima kasih ku 7 jam dari muang khua ke udomxai,  dan beliau mengajak ku makan siang sticky Rice dan ikan asap khas Laos yang beliau gratiska untuk ku. Sampai di ujung perjalanan udomxai beliau rela mengantarku sampai ke terminal untuk aku melanjutkan  perjalanan menuju luang prabang.

Keramahan banihal

Banihal, 29th January 2018

Philosophy: a route of many roads leading from nowhere to nothing,             -ambrose bierce-

DSC02094(1)

Undangan minum chai dari penduduk lokal (abdullah family) , solo backpacker 2018

Jalan setapak dari pasar tradisional banihal membawa ku ke perjalanan tidak terduga, masuk dari desa di bawah kaki gunung dolhigam, keputusan mendadak ku untuk singgah dan tinggal beberapa hari di area tanpa turis asing membawa ku juga sempat tertahan oleh beberapa tentara perbatasan yang mencuriga ku sebagai mata mata, karena singgah di area perbatasan sensitif.  Banihal terletak di distrik ramban province jammu and kashmir, daerah sensitif di ujung paling utara. Wajah wajah persia dan beberapa budaya persia serta keramahan penduduk lokalnya yang mengakar masih terasa sampai saat ini.  Tuhan memang selalu punya caranya bekerja, setiap langkah takut ku dengan doa doa memenuhi rongga mulut dan dada ku membawa ku di pertemukan  penduduk lokal yang antusias menyambutku,  tawaran tawaran minum chai hampir aku rasakan tiap aku lewat di muka rumah warga. Perkenalan ku dengan imran pemuda 25 tahun dari desa tantrapora saat aku sedang berjalan jalan sore,  saat itu sekelompok pemuda sedang bermain kriket dan dari mereka akhirnya saya terbantu berkomunikasi dengan warga lokal, sebagian pemuda kebanyakan merantau dan sekolah di kota, dan termasuk imran yang fasih berbahasa Inggris,  dari imran lah akhirnya dia mengundang ku di jamu oleh kerabatnya yang ada di desa seorang 3 km dari desa tantrapora.

DSC02082

(zahid), Ruang makan dan dapur keluarga abdullah, solo backpacker 2018

Imran mengenalkan ku dengan keluarga malik Abdullah dan menjamu ku untuk makan siang bersama, Abdullah lah memperkenalkan diri kepada ku di bantu imran dengan menerjemahkan apa yang di bicara Abdullah dalam bahasa kashmir,  di rumahnya yang sederhana abdullah tinggal bersama istri dan 3 orang anak nyan  putra pertamanya bernama zahid abdullah berumur 13 tahun,  putra ke 2 nya yang sangat tampan bernama malik berumur 7 tahun,  dan shabiah putri ke 3 nya yang sangat cantik jelita juga sangat pemalu terutama kepada tamu asing.  Keluarga Abdullah sangat sederhana tapi hangat,  Abdullah mempunyai kios di pasar banihal sebagai penjual ayam, dari hasil berjualan lah abdullah bisa mencukupi makan keluarga kecilnya.  Istrinya Abdullah menyediakan ku chai di campur garam,  minum khas dari India Utara yang bisa menjaga daya tahan tubuh di tengah serbuan musim dingin yang mengigit tubuh.  Di rumahnya Abdullah pun aku di beri kesempatan untuk mengajarkan bahasa asing untuk anak anak kecil di sana.  Tawa riang anak anak berwajah persia itu memang selalu membuat suasana dan perjalanan semakin memiliki arti lebih.  Ucapan terima kasih ku untuk keluarga sederhana ini

Perempuan perajut hidup

India, 1th February 2018

Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya yaitu keberanian.  Kalau tidak punya itu lantas apa harga nya hidup kita ini? – pramoedya ananta toer- 1995-

Dalam perjalanan akan ada langkah langkah tidak terduga yang akan menghentikan tujuan yang di rencanakan, belajar menjadi pendengar untuk setiap kisah tiap wajah perjalanan mempertahankan hidup.

Ketidaksengajaan ku masuk ke gang gang perkampungan minoritas muslim, mempertemukan ku dengan rabiah,  di depan pintu rumah nya rabiah dengan senyum yang mengembang rabiah mengundang ku untuk bertamu dan menjamu ku minum chai. usia rabiah  21 tahun sudah menikah dan memiliki 2 orang anak, rabiah menikah di usia nya yang masih sangat muda di jodohkan oleh orang tua nya, budaya yang amat mengakar yang masih berlangsung hingga saat ini, ia berkisah dengan logat terbata bata kepadaku, rumah bata satu petak ini tempat nya bernaung setiap hari nya dari hantam musim panas yang menyengat dan musim dingin yang mengigit,  rabiah memutuskan untuk ikut serta menjadi tulang punggung keluarga kecil nya,  ekonomi keluarga nya yang morat marit membuat dia harus menjadi perempuan tangguh yang harus siap menopang beban untuk membiayai hidup ke 2 anaknya yang masih kecil,  rumah petak bata sempit menjadi saksi setiap hari rabiah bekerja sebagai penjahit sekaligus ibu rumah tangga, setiap anak balita nya menangis dengan cekatan rabiah segera menghentikan  jahit nya lalulmenggendong dan menenangkan anak nya.

Rabiah merupakan satu sosok perempuan yang berani mempertahankan kelangsungan hidup keluarganya,  walaupun dia harus ikut babak belur membantu memperbaiki ekonomi keluarga nya,  dan kemiskinan tidak membuat senyum di wajahnya menghilang

(rabiah perempuan perajut hidup keluarganya, february 2018)

DSC02228

Warna petualangan

india, 10 January 2018

DSC00811

aku jatuh cinta dengan babak petualangan hidup ku, banyak orang mengatakan dengan cinta akan membawa seseorang menemukan dirinya sendiri, menemukan tujuan hidupnya, aku menikmati hidupku yang sementara ini sebagai musafir masuk ke berbagai perbatasan di ujung garis garis batas Yang teramat asing, mengamati Dan belajar karakter karakter Berbeda Dari beberapa penduduk lokal, terkadang Aku tergelitik dengan diriku sendiri di tengah kerumunan manusia Yang Berbeda  bahasa yang tidak Aku mengerti , Dan terkadang aku terbuai dengan warna warni perjalananan.

Kembali lagi ke India merupakan kesempatan Ku membuka lembaran petualangan lain. impresi pertama Ku dengan raksasa Dari Asia selatan ini adalah kebudayaan nya Yang sangat tua dan mengakar kuat, tradisi tradisi kuno Yang masih di pegang teguh Oleh sebagaian besar masyarakat nya.

 

 

selatan india

south india, 09 januari 2018

(aluva) selatan india

langkah perjalanan dan nasib membawaku lagi sampai di sini, mimpi itu masih sangat kuat, aku mempercayainya, ingin terus menembus sekat sekat mimpi, sulit tapi aku lebih suka mencoba nya. mengawali perjalanan kedua ku di negara ini, baru 8 bulan yang lalu aku menjelajahinya, masih segar di ingatan ku aroma dupa sungai gangga, deru langkah umat yang setiap hari mengadakan upacara gangga aarti, alunan musik doa, bising klakson yang tidak sabaran di tengah tengah kerumunan pasar tradisonal dan sekarang aku mencoba kembali menuju utara yang dingin di mulai dari sini. dari angin selatan yang membuka lembar pertama perjalanan ku masuk kembali menyusuri ragam cerita dari penduduk india.

DSC00811

 

DSC00742

DSC00738

india selatan merupakan daerah yang memiliki bibir pantai terbesar di india, di ujung selatan nya langsung berbatasan dengan negara tetangga mereka srilanka, memiliki bahasa daerah berbeda, karena india juga mempunyai variasi bahasa daerah yang di persatukan oleh bahasa nasional yaitu bahasa hindi, di sudut sudut jalan perempuannya masih sama banyak yang mengenakan sari simbol pakaian kebanggan mereka, di sebrang jalan, di pasar pasar tradisonal, di kantor, di stall chai di manapun kaum lelakinya terlihat mengenakan khurta dan dhoti pakaian wajib para kaum lelaki di india yang di dominasi warna putih. beragam kekayaan warna budaya dan agama pun akan terlihat di sini.

perjalanan ini ingin  terus selalu di warnai dengan sentuhan sentuhan budaya warga lokal setempat, aku ingin terus bermimpi, meyakinan diriku dengan banyak petualangan dan pembelajaran, menyelaminya merupakan hal yang selalu aku nikmati dan sukurin dengan segala keputusan untuk mengajari diri ku di usia muda arti dari sebuah hidup dan perjalanan.

ji

india, 23 april 2017

( agra ) ji

tidak ada yang kebetulan di dunia ini ji, aku selalu mempercayai takdir ku, pertemuan ku dengan mu, ketulusan yang aku temui dari balik ribuan mimpi ku melangkah dari tempat ku tumbuh dan besar jauh di tanah yang tidak pernah kau injak dan kau ketahui sebelumnya, aku mempercayai tuhan mengirim mu sebagai satu ketulusan dan kebaikan yang utuh untuk ku, sudah aku jalani kedinginan atau panas yang menghempas tubuh ku, sudah aku rasakan penuh sesak di antara ribuan manusia dalam satu gerbong kereta yang mencari penghidupan layak dan tujuan mereka bergerak ke masa depan, menuju tempat pulang, tidak aku perdulikan ketakutan ku akan tempat asing dan manusia asing yang akan menggetarkan kepercayaan diriku, sudah aku abaikan banyak kegagalan dalam hidup ku sebagai manusia yang selalu mencari rasa aman dan nyaman di setiap jerih usaha ku, aku melangkah dan takdir lain mempertemukan aku dengan mu, seorang asing yang baru aku kenal di losmen murah di pinggiran tajmahal yang sama-sama tidak sengaja kita sewa, kamar dormintory sempit dengan empat ranjang tidur, dan ruangan sesak yang harus sama-sama kita tempati dan  berbagi oksigen untuk 3 kepala manusia yang berbeda, ujung tempat tidur dekat jendela itu tempat kamu membaringkan tubuh mu dari lelahnya petualangan panjang dan kesendirian mu selama ini, aku melihat mu, kamu seseorang yang tidak sengaja aku sapa dari balik kamar sempit itu, sebentar saja waktu kita untuk berbagi banyak hal, kamu menceritakan petualangan akbar mu menjelajahi nepal sampai akhirnya kamu di lempar takdir menuju new dehli, melanjutkan perjalanan mu sampai akhirnya kamu bertemu dengan ku di agra tajmahal tempat yang kau kagumi yang membawa mu sanaoi ke negara ini, dan tempat asing yang membuat kamu mempunyai pengalaman buruk. satu hari setelah perkenalan kita, tubuh ku tumbang kelelahan, karena faktor cuaca di india yang sudah memasuki musim panas, cuaca yang sangat panas membuat tubuhku tidak bisa beradaptasi dengan baik serta makanan yang menjadi faktor penyebab tubuh ku akhirnya harus di istirahatkan, kamu ji seorang asing yang baru aku kenal yang mau membagi keperdulian mu, seorang asing yang dengan tulus memberiku obat dan segelas air putih, kamu ji seorang pendengar yang baik untuk tiap-tiap cerita perjalanan ku yang aku bagi saat kamu menuntutku menghirup udara sore di bangku tajmahal, saat tubuh ku terlalu lemah untuk berjalan sendirian menyusuri perhentian perjalanan ku di agra ini, aku melihatmu seperti aku melihat diriku sendiri, ada kesepian yang menjadi kawan dan lawan untuk kita, aku melihat diriku ada di dirimu cara mu berpikir, cara mu keluar dari masalah, cara mu menertawakan keadaan yang tidak baik, cara mu tersenyum lebar, aku yang seperti bercermin kepada diriku sendiri melihat kamu.

aku ingat ji, sore terakhir aku di agra, sore itu kita menepi lagi memandangi tajmahal yang begitu megah dan indah

 

thirteen

nepal, april 13 2017

(nepal: part 11) thirteen

DSC_1323

the real journey is home to hug a mother who never gets out of prayer for her child. thousand of steps i got out of my fear of dreams that i have always felt and could now be touched by my footing on a very strange land. the little child in me whispered “i missed my mother embrace”. the morning air touched my cheek, very cold, my body shivered, thirteen smiled at the edge of my bed. i have been six days walking with my silence, approached thirteen, through his bushy annapurna forest. thirteen asked me, how many steps have you taken to approach me so far away? you are already at an altitude 3200 m.a.s.l (10,498 feet), your face is always excited never change. definitly, you are very tired of your question to me. you talking to me, “life is a journey my darling friend” without a journey, you dont feel the meaning of tired, sick, happy, meet many kindness, unfortunely, share your experience, meet be yourself, from a journey you could it many feel. dont wasted your life in one box, stand up, see the world. hear the wind, touch your step, life is not an escape, but life is a stop for you to think.

 

c

walking in the middle of the modi kola valley, only me and my shadows without another people. follow the flow of river valley. i shouted to the wind and the steam of the river about myself and my search, i talking to valley “this is my dream for approach you”. i keep walking towards manchapuchre base camp, already 10 hours im walking, contemplating and grasping thirteen, im grateful for many chance for my life. living is just this once. and i will keep going for a lot of out there.

for the god and thirteen, thank u so much. thank you for the protection wherever i am.

for thirteen, thank you for choosing me to accompany you and waiting for you, this journey is a present  from me to you.

happy birthday my soul, thirteen and april..

 

Wandering

Nepal, april 12th 2017

(Nepal : part 10) Wandering

Hello journeys, my old friends. how are you? i want to tell you. about one day before later i meet april, this day i still in the middle annapurna forest, this my 5 day walking the annapurna valleys. the silence enveloped this journey, i saw many foreign faces including myself so strange, i could not see the shadows of myself clearly, there is very long longing that i so far, the journey take me to another point, the point where i want to mature from a journey. no im that gifts myself with the journey, but it was the journey that gift me with the many things i had to learn from every steps and meet with the many fears i had to face, interpret various other colors of the many diferences that i do, i want to dive various essence fill my limitation by learning many things that i dont know, writing journey so that i dont forget my process as a human being who wants to always learn.

waterfall

waterfall at modi kola valley

the journey will given me a lesson of various insight. i want to grow and live with the journey. i learn about annapurna, annapurna valley range of the himalaya mountains various ethnic nepali can be meet in here.The trail passes along paddy fields and into subtropical forests, several waterfalls and gigantic cliffs, and various villages. Annapurna Circuit has often been voted as the best long distance trek in the world, as it combined, in its old full form, a wide variety of climate zones from tropics at 600 m asl to the arctic at 5416 m asl at the Thorong La pass and cultural variety from Hindu villages at the low foothills to the Tibetan culture of Manang Valley and lower Mustang. Continuing construction of a road has shortened the trail and changed the villages With construction of the road, mountain biking is becoming popular, with Mustang in particular is becoming one of the world’s most popular mountain biking destinations.

DSC_1226

child in annapurna valley

i want to keep growth from the journey and learn from it.