Kaki langit

Doa doa berpadu beriringan, bergandengan, menyatu dalam banyak suara suara yang keluar  dari para umat, tidak perduli perbedaan, pernah kah kau merasa begitu tersentuh saat doa melunakan hati mu?  menyembuhkan kekosonganmu, lalu memenangkan sebagian besar pencarian dan perjalanan mu.  langkah kaki ratusan manusia dari berbagai perbedaan mengelilingi kuil bermata dewa di atas stupa budha, mata nya menatap ke berbagai penjuru sudut. Sudah seberapa jauh ujung sepatu ku dan kau pergi? Ribuan mil langkah kita dari tempat yang selalu kita sebut rumah, beradaptasi dengan kaki langit baru yang terkadang muram di musim penghujan yang di cintai tanah tanah tandus, pepohonan dan perut perut kelaparan.  Langit tua, mereka kanvas biru, jingga dan hitam luas, matahari lah yang menjadi seniman besar nya melukis hujan menjadi pelangi, awan dan sekelompok burung yang dengan leluasa terbang bebas di perut langit atau badan awan. Sore itu kita melangkah penasaran, di hadang hujan lalu mendapat keberuntungan tumpangan di antar sampai ke persimpangan perhentian bus bus lokal.

 

 

 

 

Advertisements

Engkau! Hutan berlumut

Sinuwa, 12 june 2018

IMG-20180622-WA0001

Bau hutan candu nya segala ketenangan, masuk lebih dalam ke rumah rumah pohon besar yang bersembunyi dari kerakusan kota akan membuat diri menemukan induk semangnya, seperti pulang dan menepi sejenak dari aroma aroma kesibukan yang menomer duakan segalanya. Bau hutan setia, mereka mampu memberi kita adil pada jiwa yang juga butuh diri kita sendiri, hutan guru lemah lembut dan tegas yang mengajari diri mungkin menjadi makhluk hidup yang lebih kritis lalu bertumbuh kebijaksanaan dan penyayang umpamanya seperti ibu, aku begitu juga kau ingin belajar masuk ke rumah hutan agar bisa memunguti kata kata rahasia agar jari jemari kita tidak bisa berhenti mengetik lalu menjadi sebuah huruf abjad berujung berlembar lembar tulisan yang bisa di baca. Alas sepatu basah mu kawan ku yang di cintai hujan kemarin sore saat awal kita mendaki bukit pertama, agak sesaat tersesat dan begitu kelelahan.  hari ke dua ini sepatu basah mu berhasil mencium bibir ladang warga kaki gunung, menanjak kepayahan dan telah memasuki pintu hutan pohon pohon berlumut, sedikit agak gelap menuju desa berikutnya, lumut hijau menempel lalu mereka merayap rayap di tiap tiap pohon lembab dan batu batu alam yang usia nya telah melewati kisah kisah panjang peradaban, sesekali cahaya matahari menerobos celah celah pohon berlumut, engkau berhenti sejenak dan menikmati kekaguman mu, merekam singkat pohon pohon lumut menyapa mu, mengingatkan kita akan beberapa gunung yang memiliki hutan pohon berlumut.

 

Tanah impian! Pangkal bulan enam

Nepal, June 2018

IMG_20180614_064723

Jangan tanya kenapa banyak orang asing mencari cari jati diri nya ke tanah tanah asing yang tidak pernah mereka jamah, mereka sama seperti juga beragam kata yang mudah muncul dan hilang menjadi asing,  lalu menyelam bebas menjadi beragam alasan untuk kembali menemukan hal hal yang hilang kemudian kata  tidak akan bisa terjabarkan dengan sederhana. Aku punya hobi  mengulang hidup menjadi orang asing, seperti menemukan mu dulu keterasingan lah yang memperkenalkan bagian awalnya. Hari ini saat Pesawat mu telah menembus ruang waktu, melintasi samudera awan, melintasi garis cakrawala menjauhi kau dan aku dari tanah yang menjadi identitas kita berdua seumur hidup, menjadi kebanggaan dan pertanyaan setiap orang asing dari mana kita berasal. Di pangkal juni yang sedikit berair Kau telah tiba di kota dan tanah impian mu, kota yang juga kau selalu dengar dari lirik lirik lagu dan file musik mu, dan aku yang baru berhasil membawa pergi jauh semua kesibukan dan jam kerja yang telah menggadaikan impian mu bertahun tahun.  Debu debu tebal adalah wajah kota ini, anjing anjing liar pemalas menjadi pemandangan yang biasa setiap harinya, keruwetan kendaraan,  kuil kuil tua tidak terawat, pasar tradisional yang penuh sesak setiap harinya, orang orang berdoa di kuil kuil tua, penganut budha keturunan tibet dengan taat memutar roda roda doa semakin cepat putarannya semakin doa mereka sampai ke langit atau berdoa membangkitkan seluruh badan sampai menyentuh tanah memutari stupa, bunyi lonceng penghormatan kepada dewa dewa selalu berdenting setiap melintasi kuil, bangunan bangunan abad pertengahan zaman kerjaaan akan membulatkan  warna hitam bola mata mu, modernitas dan budaya tradisional menjadi kontras yang sempurna di tengah kota ini,  kathmandu kathmandu kau menyanyikan nya berulang ulang.  Kota ini petualang kecil yang akan membawa kita melintasi jalan berkelok kelok menuju jauh yang mendekatkan mu ke kota yang lebih tenang.  Aku ingin mengajak mu masuk ke dalam perjalanan sederhana ku, meleburkan diri bersama kearifan lokal yang akan kita temui, diri ku kawan yang hanya mampu menunggui mu bus lokal menuju perjalanan selanjutnya saling berbagi udara bersama penumpang yang lainnya, semua barang kebutuhan warga di kaki gunung annapurna juga turut menjadi penumpang tambah yang semakin membuat sesak seisi mobil.  Perut kita terguncang guncang oleh medan jalan pegunungan, bus lokal dengan kendali sang supir bus berpengalaman melewati celah demi celah jalan sempit yang hanya Bisa di lalui satu mobil, melewati jalan jalan rusak yang sedang mengalami perbaikan jalan atau sesekali bus melewati aliran sungai.

Aku beberapa kali menoleh,  memastikan engkau menikmati perjalanan ini.

Mata doa

Annapurna, 14th June 2018

IMG_20180614_070755

Dari banyak perjalanan yang pernah terlalui aku makin percaya mata dan doa selalu bisa bicara lebih jujur, mereka seperti anak sepersusuan yang di lahirkan bersamaan juga seperti kau,  doa akan menjadi mata arah setiap banyak petualangan dan ruang ruang tidak bernama sekalipun, aku makin berkeyakinan mereka dalam satu nyawa seperti jiwa mempunyai ruh yang melekat dan menjadi sebuah hidup seorang manusia, bertumbuh,  berkembang,  belajar banyak hal,  dan mempunyai ambisi dan banyak impian juga sama seperti kau termasuk aku di dalamnya. Manusia yang ingin selalu belajar bertumbuh dalam perjalanannya,  memiliki banyak warna dan kesalahan dalam tiap langkah dan rencana hidupnya. Seperti tulisan dan kata kata yang selalu berjalan beriringan menyusun setiap bait demi bait cerita yang akan menjadi sebuah lembar catatan atau bahkan sebuah buku keabadian entah berapa rentang waktu yang harus di tempuh ke dua nya hingga mereka di baca banyak jiwa yang akan mengenangnya juga sama seperti persahabatan kita.  Mereka bertumbuh beratus ratus hari, berganti menjadi bulan, dan tahun mereka menerjang banyak ombak rintangan tapi mereka tetap rela menjalani takdirnya sebagai sebuah cerita panjang. Tadinya aku hanya punya keinginan sedikit saja menulis mu, tapi kata kata memang sungguh berakar mereka bertumbuh seperti doa doa yang sengaja terucap atau pun tidak, terlahir begitu saja dan mengalir terlalu cepat atau perlahan lahan menjadi sebuah prosa indah.  Aku hanya sesekali terkadang menjadi seorang petualang tersesat yang terkadang dengan sengaja membalikan arah ku sendiri tanpa tujuan agar aku bisa menemukan ketidaksengajaan ku pada sesuatu yang baru. Doa dan keinginan mu yang membuat mu menemukan jalan ini kawan,  di sepanjang rute pendakian ini entah benar atau salah pandangan ku, mata mu selalu mencari cari jejak es yang mencair di terjang musim panas yang telah datang, hanya ada salju salju tersisa di tebing tebing bukit itu,  tapi mata itu aku lihat tetap takjub memperhatikan kemegahan gunung es yang jauh terbentang di depan mu. Kau seperti pulang ke tempat bermain yang kamu inginkan, kita menyaksikan pagi yang menggigit dari balik gunung gemung es yang belum terjangkau oleh langkah kita. Kabut di depan sana memang menutupi pandangan mu melihat puncak annapurna berselimut salju, tapi kau tetap dengan santai melangkah meniti jalur pendakian berbatu sesekali kehabisan tenaga dan duduk di atas batu batu dingin. Pagi beratap langit biru bergunduk gunduk awan menggantung menemani langkah mu. Sesekali aku di belakang mu kawan,  menyimpan langkah mu,  sayang sekali rasanya kalau aku tidak menyimpan langkah itu di kotak kenangan dan ingatan ku.

Lihat rumah kecil bernama Base Camp itu di bawah sang gunung es, dekat tapi berujung fatamorgana.

Waktu

Modi kola Valley,  13th June 2018

IMG_20180614_101039

Selalu saja ketidakterdugaan menjadi kawan yang mengejutkan, tanggal berapa ini ? Tiga belas mengembalikan ku ke lembah sunyi ini, kembali yang tidak sendiri musim ini, tiga  belas juga mengembalikan bagian penting dalam Perjalanan ku. Aku ingin mimpi itu membawa mu menemui modi, lembah tenang yang akan membuat mu jatuh hati dan ingin berlama lama menyusurinya. jalan setapak berbatu sungai modi yang aku lalui 365 hari lebih 60 hari yang lalu ternyata mendengar permintaan di hari ulang tahun yang aku rayakan sendiri bersama langit biru cerah bulan april saat itu, suara deru air terjun yang jatuh dari atas tebing tebing batu, jembatan besi berkarat yang rapuh penghubung ke lembah di seberang nya ternyata sudah tanggal,  lembah lembah menguning yang aku lalui telah berubah menjadi lembah hijau yang menyegarkan mata dan pikiran mu, cuaca juni sedang berawan,  kabut tebal mengiringi langkah mu menuju tanah impian yang aku tahu pernah kau sembunyikan dari waktu menahun, aku ingin mampu menceritakan mu untuk bisa membeku kan tiga belas yang berbeda kali ini, aku bukan kawan yang pandai menghitung waktu dan mengingat banyak hal tapi kali ini aku ingin berusaha lebih untuk tanah impian yang akan menjadi museum abadi dalam bagian hidup mu nanti, ada bagian hati ku yang haru dan sangat bahagia melihatmu bertemu lembah modi teman alam ku yang mengajari ku cara nya tenang dalam kesendirian dan berbesar hati menghadapi apapun, dulu modi lah yang menyambutku saat aku selangkah lagi menghampiri umur 25. Aku juga ingin modi memberikan kenangan yang baik untuk kau ingat, walau hari ini modi menyambut engkau dan aku dengan rintik rintik kecil air dari langit himalaya, jauh sudah langkah kita sampai di pintu rumah modi, kita lalui rumah rumah kecil penduduk lokal di punggung hutan annapurna, bendera doa bertebaran di setiap jembatan panjang yang membuat mu bersemangat mencapai ujungnya dan beruntung nya aku bisa melihat semangat itu,  bukit demi bukit, desa desa kecil,  tanjakan tinggi yang menghantam langkah sempoyongan kita, beda pendapatan dalam perjalanan, terkadang ada amarah yang singgah sebentar dalam perjalanan kita, tapi aku berpikir itu lah cara alam dan modi teman yang ingin  aku perkenalkan kepada mu mengajari kita cara nya bertahan dan menjaga hubungan persahabatan ini.  Aku tahu engkau akan membiarkan modi menyentuh kata kata dalam dirimu dan kau akan berteman baik dengan nya.

Pintu lembah modi sudah terbuka untuk mu,  masuk lah. Selamat datang kawan modi sudah menunggu mu saat aku mengucapkan keinginan membawamu ke rumahnya dan duduk mendengarkannya berpetuah  tentang ketenangan,  hidup dan perjalanan yang harus kita cintai setiap harinya.

 

Jembatan juni

Annapurna, 11th June 2018

IMG_20180614_072250

Engkau kah itu?  Keberanian yang membawa ku sampai ke tempat ini lagi. Atau tawa yang ingin aku lihat yang membawa ku memutuskan hal hal di belakang ku. Lagi dan lagi hidup memberi ruang berbeda. Himalaya mimpi besar yang rupawan, mimpi mu yang menjadi mimpi besar ku, ratusan hari aku berusaha mengumpulkan keberanian membawa mu menemuinya, alasan bersikukuh menenatang impian yang lainnya dan dengan sedikit meredam ketakutan  aku ingin berdamai dengan waktu  yang sempit, untuk mewujudkan mu sampai di kakinya, melihatnya, merasakan desir desir angin lembah di tengah kerupawanannya.

Jeram suara lembah modi kola di selimuti kabut tebal,  tebing tebing tinggi yang es nya telah mencair saat datang musim panas bulan juni, saat seluruh lembah menghijau saat mata pemimpi  mu sampai di dalamnya,  negeri dongeng kah ini? Aku mendengar suara mu berbicara penuh syukur.  Hijau, air sungai deras, pohon pohon lumut hutan hujan tropis menambah lengkap museum alam hutan annapurna,  kesunyian modi kola membuat mata pemimpi mu terkagum kagum.

Selamat datang kawan penting dalam perjalanan, inspirasi, keberanian, dan bagian penting dalam hidup ku.

Selamat datang di mimpi mu yang sempat tertunda, terima kasih telah ada di dalam ku, hadiah kecil dari ku atas ratusan hari dan ketulusan mu saat aku belajarbertumbuh menjadi seorang pemimpi yang lebih besar, hitam putih dan banyak warna yang telah engkau hadiahin untuk persahabatan kita.

Di himalaya aku ingin berjanji,Engkau lah satu kebahagian yang membuat ku melangkah dan menemukan kembali..

 

Ada arah kah?

Himalaya, 17th January 2018

Bolehkah aku jatuh cinta dengan hidupku setiap hari? Aku ingin melalui mata petualanganku, kau juga bisa melihat apa yang aku lihat, merasakan apa yang aku rasakan.  sepanjang barisan gunung gunung es bercadas berselimut salju aku terus mengingat mu, aku merasa butuh perjalanan lebih jauh, agar aku bisa memutuskan kepada diri ku sendiri untuk tetap selalu menyimpan mu dan bisa merangkai mu di dalam kata kata ini, atau aku juga perlu perjalanan tanpa arah,  menyendirikan diriku agar aku tau ke mana aku harus pulang setelahnya.

 

DSC01279-01

Lihatlah barisan pucuk gunung gunung es itu, mata ku membelot keluar jendela bus reyot yang merayap rayap di punggung gunung yang curam.  Apakah jauh ini yang sedang diri ku cari? Atau aku hanya sedang membuktikan rindu bisa membawa orang ke tengah tengah keterasingan nya? Kenangan kenangan akan mu mengepung pikiran ku di tempat sedingin ini, dan selalu saja masa lalu akan mu beku sejauh apapun aku bawa diri ku sendiri pergi menjauhi kutub yang menampung kau menghabiskan waktu setiap hari nya di sana. Cukup perlu kah arah dalam pencapaian ini? Sedangkan arah itu sendiri terus membawa kenangan kenangan memasuki rongga pikiran dan mengalir melalui celah celah porip porip kulit dan menyesakan dada ku yang sempat padam. Aku belum menemukan jawaban atas ini, aku membawa beribu kata masa lalu ke dalam perjalanan baru ku. Cukup kah ini memadamkan kehilangan ku?

 

Musafir terminal!

Jammu,  18th January 2018

Seni sebuah perjalanan adalah manakala kita melupakan siapa diri kita – filsafat tiongkok-

Begini rasanya jadi tunawisma, ternyata beginilah deritan orang yang tak punya zona nyaman, sekolah bertahun tahun, mengejar selembar izajah kebanggaan dan aku sekarang  mengejar keputusan berkelana tanpa status karier. Di sini aku bukan siapa siapa, kebanggaan yang aku miliki tanggal satu persatu. Setelah semua ego di telanjangi habis habisan, sekarang aku tak lebihnya dari gelandangan yang bertahan dari suhu musim dingin dan mata mata tentara yang berkeliaran menatap curiga melihat orang asing tidur beralasan jaket tipis.  Aku hanya sekedar beristirahat menunggu pagi untuk melewatkan malam.

20180123_062811-01

Musim dingin, jam 7 pagi matahari belum terbit.  Solo backpacker 2018

Musim dingin yang menggigit, menembus jaket tipis dan rongga rongga kulit ku, jari jari tangan ku kaku, selalu saja bus reyot yang aku tumpangin melempar ku pagi pagi buta di tempat asing yang masih bertudung langit yang masih gelap gulita, di koyak koyak perjalanan darat seluruh badan ku yang masih remuk redam harus juga menanggung beban tas besar, berjalan terhuyung huyung karena di bangunkan paksa sopir bus bersuara lantang, terminal tujuan telah sampai.  Orang orang berjubah panjang pheera berebut turun. Ini masih jam 2 pagi, sinyal di kartu lokal ponselku menghilang memasuki daerah perbatasan ini, aku berjalan tanpa tau arah dan tidak tau harus mencari penginapan murah sekitar sini,  kalaupun aku mencari penginapan dengan rickshaw pasti aku akan jadi sasaran empuk calo calo terminal,  turis berkantong cekak untuk makan 3 kali sehari pun aku harus menghitung pengeluaran,  negara ini tidaklah mahal untuk biaya hidupnya tapi masih saja untuk musafir dengan dana pribadi yang terbatas, aku masih harus mengirit setiap keputusan akomodasi yang harus aku pilih. Aku terus berjalan ke dalam terminal, mencari secangkir chai untuk menghangatkan badan ku,  dan sekaligus mencari informasi transportasi menuju srinagar dengan bus malam ini juga.  Tapi ternyata tidak ada bus malam ini menuju kesanak  beberapa orang yang aku tanya adalah calo calo terminal,  mencari informasi penginapan di sekitar terminal pun sama sialnya, aku tidak ada pilihan sekaligus tidak bisa memilih.  Tidur bersama paratunawisma adalah jalan keluarnya malam ini, tempat2 duduk di dalam terminal. Sudah terisi penuh oleh selimut selimut tebal yang bau apak nya menyengat hidung,  tentara perbatasan berkeliaran mengecek keamanan terminal,  aku yang orang asing dengan wajah berbeda, bahasa berbeda, budaya berbeda dari kebanyakan orang orang di sini menjadi pusat perhatian mereka.

Ternyata saat seseorang mau keluar dari zona nya.  Ini perjalanan berbeda. Perjalanan dengan kebijaksanaan dan kesederhanaan ya.

Oktober 29

Mui ne,  29th oktober 2017

Jika engkau memilih memutuskan menjadi orang asing di tahun tahun sulit ku, biarlah aku memutuskan menjadi petualang sebagai persembahan dan menghadiahkan mu beragam ucapan kata kata dan kisah hidup yang aku temui dari perjalanan.  Selamat ulang tahun

20171028_145051

Selamat ulang tahun

Kembali ke Vietnam langkah awal rencana pengelanaan panjang ku.  Ada beberapa mimpi di sini yang aku bangun 1 tahun yang lalu di saigon,  sekedar mensyukuri banyak rencana mimpi yang pernag terreka di negara ini, untuk mulai mewujudkan satu persatu mimpi.  Perjalanan sederhana ini wujud rasa syukur ku atas memori yang telah terbangun,  oktober  sahabatku satu dari inspirasi ku memulai perjalanan apa adanya ini.  Darinya lah aku berani melangkah dan keluar.  Hadiah sederhana dari ku, sebagai rasa hormat dan ribuan terima kasih ku atas perjuangan mimpi yang pernah terlewati

20171029_130539

Hari ini tepat 29 oktober,  rencana ku menuju Red sand dunes, aku ingin membuat ucapan sederhana,  penginapan tenda ku berjarak 15 km dari red sand dunes, terletak. Dekat bibir pantai dan agak jauh dari jalan arteri. Tidak ada kendaraan umum, hanya ada taxi dengan tarif mahal. Aku memutuskan untuk berjalan kaki 2 km dari penginapan menuju jalan arteri untuk menumpang kendaraan yang lewat menuju Red sand dunes, 15 menit aku berdiri di bahu jalan tidak ada satu pun mobil yang mau berhenti.

20171028_122515

Suami istri Bersepeda motor yang berbaik hati memberi tumpang, solo backpacker 2017

Aku berusaha berjalan kaki lagi sambil mencari tumpangan yang mau berhenti,  tidak berapa lama aku jalan kaki ada sepasang suami istri menggunakan motor berhenti dan memberi tumpangan dan mengantarku sampai ke red sand dunes. Keberuntungan memihak ku. Terima kasih

Selamat ulang tahun oktober 29. 1

Belok kanan! 100km China Utara di depan

Udomxai, 11th November 2017

Aku tidak pernah betul betul pulang. Tidak bisa ke semua tempat ku seret tubuh ku sendiri sebagai petualang tersesat .

20171108_111940

Jalan lenggang,  China Utara di depan. Solo backpacker 2017

Jalan berkelok kelok ini terlalu lenggang,  sepanjang perjalanan dari balik kaca mobil yang berbaik hati menampung pengelana seperti ku secara cuma cuma merupakan suatu keberuntungan yang di hadiah kan perjalanan untuk ku, dari balik kaca mobil mr pong aku melihat sisi lain kehidupan masyarakat Laos di pedalaman utara, rumah rumah penduduk yang jarang terlihat, warga lokal yang sepanjang jalan memanggil kayu bakar menggunakan pakaian traditional mereka, sepanjang jalan hanya satu dua rumah kayu panggung terlihat, selebihnya hanya  bukit bukit hijau dan hutan yang terlihat.  Mr pong sebenarnya ingin menjelaskan banyak hal kepada ku tentang Laos tapi kami terkendala bahasa,  aku yang tidak bisa bahasa laos dan mr pong yang tidak fasih berbahasa Inggris, ku habiskan perjalanan 7 jam bersama mr pong menuju udomxai dengan satu dua kata. Sepanjang perjalanan terlihat juga  Ladang ladang stick rice telah habis di panen, suasana pedesaan Laos begitu kental,  kesederhanaan mereka, tua muda budaya menyirih juga masih di pertahankan, sebelum aku bertemu mr pong 5 jam aku berinteraksi dengan Warga lokal di sekitaran pasar muang khua, mengamati proses jual beli di antara warga.

20171108_113651

Jalan lenggang,  china Utara di depan.  Solo backpacker 2017

Riak Riak suara sungai di bawah jembatan saat aku membuka kaca jendela mobil terdengar beraturan.  Mr pong berbaik hati menghentikan mobil nya dan mempersilahka ku untuk mengambil gambar desa di bawah sungai sana, jembatan desa ini batas memasuki udomxai, daerah perkotaan dan ekonomi warga lebih menggeliat di udomxai,  suasana sedikit perkotaan mulai terasa,  tangan mr pong menunjuk pertigaan jalan,  China China right going to China 100km, belok ke kiri melanjutkan perjalanan menuju luang prabang.  Mr pong terus melajukan kendaraan  nya mengantarkan aku menuju terminal bus yang berjarak 10km dari perbatasan udomxai.

Ah aku begitu dekat dengan China Utara di seberang bukit sana.