Musafir terminal!

Jammu,  18th January 2018

Seni sebuah perjalanan adalah manakala kita melupakan siapa diri kita – filsafat tiongkok-

Begini rasanya jadi tunawisma, ternyata beginilah deritan orang yang tak punya zona nyaman, sekolah bertahun tahun, mengejar selembar izajah kebanggaan dan aku sekarang  mengejar keputusan berkelana tanpa status karier. Di sini aku bukan siapa siapa, kebanggaan yang aku miliki tanggal satu persatu. Setelah semua ego di telanjangi habis habisan, sekarang aku tak lebihnya dari gelandangan yang bertahan dari suhu musim dingin dan mata mata tentara yang berkeliaran menatap curiga melihat orang asing tidur beralasan jaket tipis.  Aku hanya sekedar beristirahat menunggu pagi untuk melewatkan malam.

20180123_062811-01

Musim dingin, jam 7 pagi matahari belum terbit.  Solo backpacker 2018

Musim dingin yang menggigit, menembus jaket tipis dan rongga rongga kulit ku, jari jari tangan ku kaku, selalu saja bus reyot yang aku tumpangin melempar ku pagi pagi buta di tempat asing yang masih bertudung langit yang masih gelap gulita, di koyak koyak perjalanan darat seluruh badan ku yang masih remuk redam harus juga menanggung beban tas besar, berjalan terhuyung huyung karena di bangunkan paksa sopir bus bersuara lantang, terminal tujuan telah sampai.  Orang orang berjubah panjang pheera berebut turun. Ini masih jam 2 pagi, sinyal di kartu lokal ponselku menghilang memasuki daerah perbatasan ini, aku berjalan tanpa tau arah dan tidak tau harus mencari penginapan murah sekitar sini,  kalaupun aku mencari penginapan dengan rickshaw pasti aku akan jadi sasaran empuk calo calo terminal,  turis berkantong cekak untuk makan 3 kali sehari pun aku harus menghitung pengeluaran,  negara ini tidaklah mahal untuk biaya hidupnya tapi masih saja untuk musafir dengan dana pribadi yang terbatas, aku masih harus mengirit setiap keputusan akomodasi yang harus aku pilih. Aku terus berjalan ke dalam terminal, mencari secangkir chai untuk menghangatkan badan ku,  dan sekaligus mencari informasi transportasi menuju srinagar dengan bus malam ini juga.  Tapi ternyata tidak ada bus malam ini menuju kesanak  beberapa orang yang aku tanya adalah calo calo terminal,  mencari informasi penginapan di sekitar terminal pun sama sialnya, aku tidak ada pilihan sekaligus tidak bisa memilih.  Tidur bersama paratunawisma adalah jalan keluarnya malam ini, tempat2 duduk di dalam terminal. Sudah terisi penuh oleh selimut selimut tebal yang bau apak nya menyengat hidung,  tentara perbatasan berkeliaran mengecek keamanan terminal,  aku yang orang asing dengan wajah berbeda, bahasa berbeda, budaya berbeda dari kebanyakan orang orang di sini menjadi pusat perhatian mereka.

Ternyata saat seseorang mau keluar dari zona nya.  Ini perjalanan berbeda. Perjalanan dengan kebijaksanaan dan kesederhanaan ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s